In memoriam: Wawang Wijaya, Sang Buaya Keroncong
Siapa yang pantas disebut buaya? Hanya orang yang begitu ngebet akan sesuatu dan menghayati perannya, dialah sang buaya. Dan untuk “buaya keroncong”, paling pas memang disandangkan pada almarhum Wawang Wijaya, (1945-2009).
Wawang Wijaya, laki-laki yang dilahirkan di Yogyakarta, sama sekali belum pernah saya tatap mukanya langsung. Saya mengenalnya lewat teman-teman di Komunitas Penikmat Keroncong atau KPK (KPK ini singkatan yang saya buat sendiri, he-he-he). Lewat apa lagi kalau bukan mailing list dan yahoo messenger.
Ketika itu saya hendak menulis soal KPK dan tentu belumlah sempurna tanpa kutipan dari seorang pakar keroncong macam Wawang, yang menetap di Kuala Lumpur Malaysia ini. Saya mewawancarainya melalui YM, selain berkirim surat elektronik juga. Oya, waktu itu Bulan November 2007.
Kami sempat janjian, kalau suatu waktu saya melancong atau bertugas ke Kuala Lumpur, kami akan ketemuan. Namun apa boleh buat, saya tidak kunjung ke Kuala Lumpur, sampai muncul kabar Wawang telah berpulang, 25 Juni 2009.
Sang Guru
Wawang ini di KPK boleh dikatakan adalah salah seorang guru yang wajib dikorek keluasan ilmunya. Dia tak hanya cakap dalam hal sejarah dan budaya keroncong, namun juga seorang praktisi yang kadang mengecerkan jasa memberi ilmu gratisan. Itu yang dia kisahkan pada saya.
Wawang bergabung dengan KPK karena ingin membagi pengalaman dan pengetahuan yang dimilikinya. Justru karena menjadi WNM (Warga Negara Malaysia), ia ingin menegaskan kepada orang-orang bahwa keroncong adalah musik asli Indonesia.
Wawang bermain keroncong sejak tahun 1952, sewaktu berumur tujuh tahun. Gurunya adalah kakeknya sendiri (1888-1973) yang memang “buaya keroncong”. Kakek membuatkan gitar kecik agar pas dipegang Wawang. Sejak itu, setiap sore saat kakeknya bermain biola, ia menimpalinya dengan gitar. “Awalnya karena disuruh kakek, namun lama-lama jadi mencintai keroncong,” katanya.
Wawang lalu bergabung dengan grup keroncong di kampungnya, mulai bagian menabuh triangle sampai cak, cuk, dan gitar. Ia juga mempelajari sejarah keroncong dengan membaca buku berbahasa Belanda milik kakeknya.
“Sejak itu, saya kerap dipanggil buaya keroncong. Buaya dalam arti baik ya, bukan sejenis buaya darat, ha-ha-ha,” candanya.
Wawang sempat bekerja di Surabaya sebelum memutuskan hijrah ke Malaysia. Saya lupa kapan tepatnya ia pergi dan kemudian berpindah kewarganegaraan, sekitar akhir tahun 70-an atau awal tahun 80-an kalau tidak salah.
Seorang guru tetaplah guru. Kebahagiaan seorang guru sejati adalah ketika melihat lebih banyak orang menjadi tahu. Guru, yang dalam bahasa Sanskrit berarti memudarkan kegelapan, adalah master yang tidak saja memiliki keluasan ilmu namun juga kebijaksanaan.
Maka bahagia betul hati Wawang ketika pada tahun 1984 ia diminta mengajar musik organ di Fakultas Persembahan Universitas Institut Teknologi MARA (UITM) Shah Alam Selangor. Pada tahun 1995-2002, ia beralih mengajar keroncong. Ia juga diminta mengajar di Fakultas Kemanusiaan Seni Universitas Sains Malaysia (USM), Pulau Pinang, dari tahun 1995-1999.
Meski getol menyebarkan keroncong di Malaysia, Wawang selalu menegaskan kalau musik ini asli Indonesia. Dulu orang-orang asal bermain saja, belum mengenal chord. Keroncong lalu dipersohor oleh orang-orang Portugis dengan berbagai alat mereka, seperti rajao, sejenis gitar kecil berdawai lima. Portugis mengajarkan chordal. Musik terus berkembang, dari namanya moresco hingga berubah menjadi keroncong mulai awal abad ke-19.
“Karena bunyi alatnya creng… crong… lalu dinamai keroncong,” kata Wawang menerangkan proses penamaan musik keroncong.
Sebagai Guru, Wawang memiliki kegundahan tersendiri, setidaknya begitu dituliskannya untuk menanggapi tulisan Lambertus Hurek dalam blognya, “I realised now that Keroncong Music is not at the helm in their top like in the Fifties thru Seventies ; even also in Malaysia like in Indonesia, Keroncong are gradually slowdown toward minimize situation which some times become a worriedness in a question : What will be happened to our prestigious Keroncong Music? And where is the destination of Keroncong Music? A musem of Musicology to tell the next Generation that KERONCONG WAS HERE BEFORE ???. With this situation I would like to call upon to all my friends whose still active in Keroncong Music to interact with me thru some Keroncong Forum!”.
Ceria
Begitulah saya mengenang sosok Wawang, yang sebenarnya hanya sekelebatan. Ibarat naik bus kota patas AC dari Cawang Jakarta Timur menuju Blok M Jakarta Selatan, begitu singkat perjumpaan saya dengan sang guru. Tapi prosesnya sungguh nikmat.
Wawang ini tipe bapak yang ceria, jarang sedih, dan humoris. Tiba-tiba saja ia mengirim kartu-kartu konyol bertuliskan joke segar via surat elektronik. Atau tiba-tiba ia menceritakan pelesetan atau perbedaan bahasa antara Malaysia dan Indonesia yang bikin geli.
Satu contoh adalah rumah sakit bersalin, yang kalau di Malaysia dinamakan rumah sakit korban lelaki. Jadi rupanya perempuan yang hamil itu adalah korban para lelaki? Mulanya saya protes dengan nama itu, namun lantas terkekeh geli. Ha-ha-ha. Jadi jangan mau hamil kalau tidak mau menjadi korban, ha-ha-ha.
Pernah dalam satu percakapan di YM, Wawang menceritakan keluarga dan anak-anaknya yang juga merantau. Ah saya tidak terlalu pandai mengingat soal ini. Yang saya tangkap, bahwa ia kini hidup sendiri dan begitu sibuk dengan urusan mengajar dan berkesenian. Terkesan ia begitu menikmati hidupnya.
Oya, Wawang pernah bercerita soal kegiatannya menulis buku, yakni mengenai keroncong. Buku empat jilid sejarah keroncong, mulai abad ke-17 sampai abad milenium. “Baru 40 persennya,” katanya waktu itu, di penghujung tahun 2007. Saya berharap buku itu kini telah rampung.
Begitulah sang buaya keroncong, yang saya kenal bagai meteor, begitu saja datang dan begitu cepat pergi.
And in the end, it’s not the years in your life that count. It’s the life in your years (Abraham Lincoln). Selamat jalan…sang buaya keroncong. (Susi Ivvaty)
Wawang Wijaya yang saya kenali selama dua tahun bersahabat dengannya sungguh istimewa. Beliau adalah seorang yang periang tetapi tegas. Beliau tidak lokek mencurahkan ilmu keroncong kepada siapa sahaja yang mahu belajar. Anak saya, Jamilah Abu Bakar sungguh bertuah dapat berguru dengan beliau. Saya ingin memberitahu di sini bahawa almarhum tidak pernah meminta sebarang bayaran dari kami sepanjang Jamilah belajar dengan beliau. Saya juga ingin memperbetulkan fakta bahawa Wawang Wijaya sebenarnya adalah masih Warganegara Indonesia dengan status Permanent Resident di Malaysia. Sebelum meninggal dunia beliau telah memohon untuk mendapatkan kerakyatan Malaysia tetapi tidak kesampaian.
Pak Abu Bakar, sungguh ironis memang meninggalnya Om Wawang. Semoga jasa dan amal ibadah beliau diterima disisiNya.
maju terus kpk, berantas polisi korup, jaksa korup, dan petugas pajak yang korup, sekalian anggota dpr yang korup
Wawang Wijaya adalah Bapak Kroncong yang tiada duanya… Kita Tunggu murid beliau (Jamilah), meneruskan perjuangan Wawang Wijaya
Ini adalah katalibur dari teman-sahabat pak ‘BuaYa KerONcOnG ‘,Wawang Wijaya @ Ahmad Nuruddin Abdullah, dari KL Malaysia… Pertamanya.. agak terlewat saya berbicara tentang Almarhum. ..Namun saya terpanggil …
Pak Wawang mula sayakenal pertama kali ketika beliau diundang memberi pengetahuan tentang sejarah keroncong. Semuanya berlaku sekitar tahun 2005 dan terjadi di Kompleks Kraf Kuala Lumpur, . Undangan yang diideakan oleh Almarhm Dr Arif Ahmad pemimpin grup keroncong kami ketika itu.
Sebagai seorang yang humble, mungkin terlalu, beliau senang bercerita tentang sejarah keroncong walau mungkin hanya daun-daun serta pohon- sekitar yang mendengar, Keghairahan anak- anak muda sekitar situ hanya bermain keroncong. Keghairahan tak terbendung mereka disudahi dengan masuk telinga kiri keluar
telinga kanan.
Namun tidak semua sedemikian,.. Entah mengapa saya senang membuka telinga apa saja yang disampaikn. Pada saya., khabar dan sejarah merupakan warisan pekerti sebuah adab yang lahiir dari irama sukma itu. Irama keroncong bukan hanya melodi, persembahan, tetapi sebuah ekspresi pesan dalam ‘aproach’ yang penuh pesona. Apalagi dengan ‘mazamir’ dan alunannya. melodiousnya.
‘Jangan asyik mengejar teknisnya..kejarin kelunakkan melodi dalam iramanya…’, itulah ungkapan yang sering coba difahamkn almarhm. ‘Sebaik bersih dan jangan exited..jgn terlalu keras ..loo ‘, . Yaa, begitulah keadaannya kami anak mengkarung dan beliau sang buaya.
Terkenang saya, beliau begitu bersemangat jika memegang musik instrumen,..ada sahaja aktiviti dimasa lapang. Selain kepakarannya mengendali komputer juga memperbaikki alatan eletronik. Malahan melakukan kerja- kerja ekperimental serta kreatif bermodifikasi!
Pernah Pak Wawang merencana melahirkn sebuah kumpulan keroncong cara Malaysia (agak laju) dan dinamakan ‘Ok. Putra Malaysia’, saya diajak bersama namun kerana saya didalam Ok. Arif Lukisan, hajatnya ditangguhkn.
Saya sering bertanya tentang karyatulisan beliau yang mahu dijadikn buku. Namun pesan dan kisah beliau sudah saya kira sebagai buku dalam hidup ini. Akhlak dan adab serta kesungguhan beliau mejadi sumber inspirasi dan pengajaran dalam memperjuang sebuah falsafah .
diakhir hayat beliau sempat melestarikan lagu- lagu keroncong dengan memberi tunjuk ajar didalam kelas vokalis yang dianjurknnya. Nurulsyamin, Norfadila dan yang dikenali ramai Jamilah A Bakar sempat menjadi anak didik beliau.
Kembalinya almarhm Pak Wawang Wijaya pada 25 june 2009… bak gugurnya bunga yang mewangi dipersada keroncong IndonesiaMalaysia diiringi doa oleh sekump[ulan jemaah sufi 300lebih orang yang entah dari mana datangnya sore di kompleks tanah wakaf Batu Muda, Batu Caves Selangor, Malaysia…
‘berpecah kita (keroncong) hanya dikeranakan mati’,..inilah kata- kata beliau yang saya genggam didalam sukma. HiDuPP KErONcOnG!!!
Al Fatehah….
.-maamorjantan@ymail.com Ok. Arif LUkisan Keroncong.2012.