KERONCONGKU
Oleh: Martoyo Miran Soemarto
Pertama kali saya menerima buletin komunitas keroncong TJROENG, saya gembira dan senang sekali. Membaca halaman demi halaman buletin yang bercerita, berbicara dan mengupas keroncong membuat darah saya mengalir, membawa kenangan di masa lalu. Decak kagum dan salut dengan penuh rasa hormat, ternyata masih banyak anak bangsa yang peduli dengan keberadaan keroncong, sebagai salah satu warisan budaya bangsa. Kemudian ketika ada promo jaket dengan logo bas bethot, saya pun langsung pesan. Jaket itu selalu saya pakai dengan penuh bangga untuk beberapa aktivitas, termasuk saya pakai ke kantor.
Membaca TJROENG, saya jadi teringat masa-masa dulu waktu masih duduk di bangku SMP dan SMA. Saat-saat The Beatles dan Koes Plus, serta grup band lain menjadi idola saja. Masih ingat saat itu almarhum bapak tercinta sering bermain gitar sambil melantunkan lagu-lagu keroncong, dan sering mengomentari kami anak-anaknya yang lebih senang dengan lagu-lagu Beatles atau Koes Plus. Terasa jelas perbedaan selera terhadap irama lagu antara keroncong dengan lagu-lagu Beatles dan Koes Plus. Waktu itu kami protes dalam hati “ … bapak tidak menghargai jiwa muda..”, sehingga tidak pernah ada titik temu dan kebersamaan kami dalam menikmati irama musik yang menjadi kesukaan masing-masing generasi.
Kemudian, ketika kami tumbuh dewasa seiiring geliat musik Indonesia yang tumbuh sedemikian rupa, grup band anak-anak muda masa kini, era millennium, yang memunculkan berbagai jenis irama musik serta grup banda dari luar negeri seperti limpbizkit dan lainnya.. ternyata sebagai orang tua, komentar kami juga bertentangan dengan kesukaan anak-anak kami .. ternyata kami lebih suka irama musik yang lembut.. justru kami lebih suka irama keroncong…!
Saya masih ingat, saat training di Malaysia pada tahun 1995, di forum International Culture Show, kami berkesempatan melantunkan lagu Bengawan Solo ciptaan Gesang, tokoh keroncong Indonesia yang sangat besar kontribusinya dalam membesarkan musik keroncong. Tepuk tangan meriah dari penonton semakin meyakinkan saya bahwa keroncong memang bisa dinikmati siapa saja, bahkan di lingkup internasional, walaupun penyanyinya cuma sekaliber saya.. hehe…apalagi kalau yang membawakannya adalah penyanyi professional… wahhh!!.
Saya berharap pengalaman saya di atas tidak terulang lagi pada generasi penerus. Jangan menunggu sampai berumur baru menyenangi dan mencintai keroncong. Alangkah baiknya bila menyukai keroncong dimulai sejak dini. Upaya memasyarakat keroncong perlu dilakukan dengan lebih intens dan melibatkan lebih banyak pihak. Semoga keroncong tetap menjadi budaya dan kebanggaan bangsa Indonesia. Salam Tjroeng!! (Jakarta, 23-06-09)
terima kasih, nice site. apakah post selanjutnya?