PERAN RADIO KERONCONG
Oleh: GWK Partho Djojodihardjo
Setiap Berita Radio adalah Informasi, tapi tidak setiap Informasi di radio adalah berita. Berita harus memenuhi unsur jurnalistik, mulai menemukan, menganalisa, mengumpulkan fakta, menyinkronkan dengan data pembanding bila ada, mengerjakannya dengan sesuai kaidah jurnalistik, mengolahnya dan menyiarkan, serta setelah dipublikasikan ada respons atau reaksi dari audience. Sedangkan Informasi biasanya adalah hal-hal yang bersifat ringan, yang bisa menjadi sebuah berita radio.
Radio siaran, khususnya di Bandung hanya sedikit dari sebagian besar stasiun radio di Indonesia yang berformat radio berita. Setidaknya pada satu kota besar hanya sekitar satu hingga tiga stasiun radio saja. di Bandung ada PRFM, ELSHINTA, RRI Programa 3 (News). Sementara puluhan lainnya lebih memilih mengemas berita dalam bentuk “informasiâ€. Hal ini memungkinkan mengingat sifat dasar radio adalah media yang “sepintas laluâ€. Artinya, konten yang disiarkan radio lebih dipilih dapat mengibur disiarkan disela sela siaran musik yang hampir sebagian besarnya kini berjalan.
Bila informasi didalami, biasanya dikemas dalam bentuk perbincangan ringan, dengan menghadirkan narasumber ke studio atau cukup menghubungi-nya via telephone. Biasanya juga dihadirkan dalam perbincangan yang digelar di OB VAN (Outside Broadcast) atau mobil unit siaran luar dari lokasi tertentu, misal di tempat narasumber berkantor, bahkan sampai di tempat-tempat keramaian umum, seperti di Mall.
Terkait peran dan fungsi radio siaran dalam penyebaran informasi, radio memiliki keunggulan tertentu dibanding media massa lainnya, meski tetap ada kekurangannya. Bagi para pekerja, kekurangan dari radio dijadikan sebagai penyemangat untuk menghadirkan kelebihan-kelebihan radio. Radio hanya menghasilkan bunyi /suara. Dengan karakter atau sifatnya yang akrab dan intim serta personal dengan pendengarnya, radio mampu menembus “mind†pendengar dengan sajian informasi yang ringan, bahasa yang tidak njlimet dan mampu diterjemahkan oleh masing-masing penerima pesan.
Format dan gaya penyampaian yang telah tersegmentasi, pada dasarnya radio bisa didengar oleh sesiapapun juga. Maka tak heran bila kita mendengar informasi yang disiarkan oleh radio anak muda, akan berbeda cara penyampaiannya dengan radio eksekutif atau pebisnis, radio dewasa, radio dangdut dan sebagainya, walaupun sebenarnya sumber informasinya satu dan sama. Segmentasi hingga kini dianggap mumpuni dalam menajamkan informasi/konten/pesan agar sampai ke khalayak masing-masing radio.
Informasi melalui radio, akan sampai kepada audience jika disampaikan secara tepat dan sesuai sasaran target pendengar, bila mengindahkan hal hal seperti; bahasa pengantar, cara / gaya penyampaian-nya, angle atau sudut informasi yang tidak membuat kerut dahi pendengar, dan disampaikan secara langsung layaknya “orang ngobrol†berdua. Hal lain yang tak kalah penting adalah, si penyampai pesan atau penyiar-nya. Maka bila penyiar tidak memiliki keahlian khusus, ia tak ubahnya hanya mesin suara yang membosankan, datar dan tidak menghibur, serta hanya mengeluarkan bebunyian tanpa makna. Peran radio dalam penyebaran informasi, hingga kini dianggap masih efektif, karena di radio, pesan atau konten hanya ada satu “sound†yang terdiri dari siaran kata dan musik serta bunyi lainnya.
Terkait dengan fungsi radio, kehadiran televisi dan internet, layaknya bilah pedang yang tajam. Radio dan media massa lainnya, kini menghadapi persaingan yang berat. Jangankan antar media massa, internal sesama radio saja, tentu sudah terjadi persaingan yang “kerasâ€. Siasat itu adalah dengan format dan target audience yang berbeda dan beragam tadi.
Konvergensi Media, adalah salah satu jawaban akan tantangan perkembangan teknologi masa kini. Informasi yang kini berseliweran memalui udara (radio), gambar (televisi), dan online (internet), serta cetak, telah saling melengkapi dengan konvergensi ini. Kehadiran televisi, media luar ruang, media cetak, media online, internet dan yang sejenis, kini dianggap oleh media radio sebagai pelengkap dan saling “terkait†membutuhkan. Sebab, bisa jadi informasi yang tadi-nya diolah oleh radio journalist dan disiarkan di radio, justru bisa menjadi liputan dan dibagikan di media lainnya, begitu juga sebaliknya.
Bagi Radio umum, apalagi radio yang menyiarkan hampir diatas 70%nya musik, musik menjadi hal utama. Tak terkecuali radio berita, yang tetap menggunakan musik sebagai tune, backsound, bahkan briging dan bumper in atau bumper out.
Radio Lita, sejak mengudara kali pertama tahun 1972, tidak menjadikan siaran musik sebagai hal utama. Kombinasi dengan siaran kata, dengan presentase hampir 50- 50nya, radio ini menjadikan musik sebagai bagian penopang siaran kata yang tematis dan tersegmen khusus. Contohnya, Radio Lita menghadirkan lagu 60-70an Indonesia original, dengan sasaran mereka yang memang pernah remaja atau muda pada masa itu. Konten siaran kata disesuaikan dengan target audience, bahkan bila ada perbincangan khusus pun, akan mengarah pada hal hal yang terkait dengan format utama ini.
Mengenai koleksi musik/ pustka musik di Lita FM; secara singkat bisa digambarkan sebagai berikut ;
INDONESIA : 60an – 70an : 40 %, 70an – 80an : 30 %, 90an – 200an : 20% dan terbaru 10 %. Masing masing terpilah untuk Pop Indonesia lebih dominan, sekitar 40%, Dangdut & Melayu 20 %, Sunda 20 %, Lain lain 20 % (Jawa, Minang, Batak, Musik Nusantara lainnya, termasuk musik Keroncong)
MANCANEGARA; terdiri dari Lagu berbahasa Inggris, Jerman, dll, mayoritas bahasa Inggris, konsentrasi 60 – 80an 60%, 80 – 90an 30%, lain lain 10 %.
Sebagin besar, di Lita FM menyiarkan lagu berbahasa Indonesia, dominan hingga 60 %, 20 % Sunda, 10 % Manca Negara, sisanya lain lain 10 %.
Sejak kali pertama menggunakan sistem onair computerizer pada tahun 90an, hampir sebagian besar koleksi musik yang tadinya berada pada medium piringan hitam, Pita Kaset, Keping CD dll, kini telah berupa file audio berformat (mp3, wav, ogg dll) yang berada pada server utama. Namu, dalam kondisi khusus, darurat atau kasus tertentu, penggunakan CD Player atau Tape Deck, tetap bisa difungsikan. Baik di ruang siaran atau di ruang produksi.
Untuk koleksi keroncong, yang dulunya terdapat dalam Piringan Hitam, dan Pita Kaset semuanya berjumlah sekitar 300an. Sejak siaran Irama Keroncong tahun 1972 menggunakan piringan hitam dan pita kaset. Tahun 90an dengan kemunculan Keping CD dan LCD pada era ini, juga menambah jamak koleksi musik keroncong di Lita FM.
Pada Januari 2009, Acara Keroncong di Lita FM di “reformatâ€. Penambahan koleksi pustaka musik ini, sangat ekstrim dan signifikan dengan terkumpulnya hasil rekaman langsung pertunjukan musik keroncong, latihan, pagelaran dan hasil liputan hingga 2013 sekarang ini. Totalnya setelah menjadi data/ file audio, pada komputer pemutar musik di ruang siaran sekitar 60 – 100 GB, belum termasuk jumlah yang terdapat di server utama.
Yang unik di sini adalah cara berburu materi lagu keroncong. Pada awalnya, selain mengandalkan pita kaset yang ada di Lita FM yang belum didigitalkan, diubah menjadi file audio berformat wav dan mp3. Setelah itu, menjalin komunikasi dengan semua pihak yang terkait dengan musik keroncong, mulai radio siaran yang ada musik keroncong-nya, pegiat/pemain keroncong, kolektor kaset keroncong, penggemar dan bahkan pendengar keroncong.