Keroncong Nafas Nusantara

“Apa boleh buat, dalam kerangkeng, di atas kapal semacam ini, memang setiap kami merenungkan mati. Dan kroncong yang cengeng meliuk-liuk makin mendorong diri pada renungan itu. Kroncong sebelum kemerdekaan masih punya gairah, masih mengandung vitalitas-vitalitas bangsa yang belum merdeka. Kroncong sehabis dan selama Revolusi justru tinggal jadi semacam narcisme, serangkaian kata kosong, masturbasiisme. Sejajar dengan pidatoisme dan wayangisme. Berbahagialah kalian, para orator Yunani dan Romawi!! Berbahagialah kalian para penari topeng, karena secara thematik memang menolak ekspresi diri. Dan kroncong dengan lirik bombasme dalam alunan yang meliuk melolong lolong, justru merupakan penyataan ketiadamampuan berekspresi: sama dengan tidak ada apa-apa. Kosong.”

Satu paragraf dari seorang Pramudya Ananta Toer melalui Nyanyi Sunyi Seorang Bisu, membuat penulis terdiam. Sebuah permenungan sarat makna, dimana pergumulan jiwa yang terpenjara masih mampu merasakan perubahan dalam keroncong dari masa perjuangan kemerdekaan dan sesudahnya.

Belajar dari SKF

Solo Keroncong Festival (SKF), saat ini telah menjadi sebuah agenda nyaris rutin setiap tahun dengan tema yang dirasakan menjadi titik awal gerakan baru dalam berkeroncong. Di 2015, tema SKF adalah Keroncong Sebagai Musik Nusantara. Tema tersebut dapat dimaknai bahwa keroncong merupakan warisan musik Nusantara, seperti halnya yang tengah diperjuangkan bersama seluruh pegiat keroncong.

Jika membaca tema Keroncong sebagai Musik Nusantara, maka terbayang, pemusik keroncong dari berbagai daerah membawa sentuhan lokalnya masing-masing. Dan tentunya, membawa pula persoalan lokal yang tertuang melalui lirik-liriknya. Ini penting, sebab manakala pegiat keroncong ingin menjadikan keroncong hidup, maka mereka harus lebur dalam dunia di mana mereka tinggal berikut seluruh persoalan dan hiruk pikuk yang terjadi. Pegiat keroncong selayaknyalah mampu menjadi corong persoalan hidup warga di mana mereka tinggal. Dengan demikian, geliat keroncong adalah geliat rakyatnya.

Melalui ajang festival keroncong layaknya SKF seharusnyalah telah lahir lagu-lagu baru, karya cipta baru sesuai dengan tema di setiap tahunnya. Kondisi ini tentu sangat bergantung kepada insan keroncong itu sendiri dalam merespons lingkungan sosial budaya sebagai basis kerja kreatifnya, dan tentu tidak bisa dibebankan kepada penyeyenggara festival itu sendiri.

Menuju Arena Java Jazz

Keroncong, sering diidentikkan sebagai jazz-nya Indonesia. Dan sempat salah seorang kawan penulis berkesempatan mendengarkan satu lagu yang dibawakan OK Bumi Pertiwi, yang sangat keroncong dan sangat pula nge-jazz, maka dari muncul di kalangan terbatas adalah istilah kronchy. Apapun musiknya ketika mendapat sentuhan keroncong, itulah Kronchy.

“Kapan, temenmu itu ikut Java Jazz???,” sebuah tantangan yang tidak biasa tentunya, musik keroncong masuk ke dalam agenda musik yang sudah mendunia, seperti Java Jazz. “Menurutku, layak dan sangat layak garapan keroncong kawan-kawanmu itu masuk ke dalam Java Jazz,” lanjutnya.

Tantangan tersebut pada akhirnya masih tinggal tantangan.

Menghadirkan suasana keroncong ke dalam festival jazz layak untuk direncanakan, baik perpaduan kedua genre tersebut berikut konten liriknya. Hal ini bukan persoalan prestise tentu saja, namun hadir ke dalam suasana lain dengan niat menghadirkan keroncong sebagai sebuah local genius yang mampu beradaptasi dengan musik manapun di belahan dunia.

Perpaduan keroncong dan jazz yang sangat memukau pernah ditampilkan oleh LIWET (group keroncong asal Surabaya) manakala mengikuti ajang Indonesia Mencari Bakat. Garapan yang apik oleh LIWET atas lagu Spain yang biasa dinyanyikan oleh Al Jarreau membuktikan bahwa keroncong adalah musik yang sangat adaptatif, sehingga pegiat keroncong pada akhirnya harus menjawab tantangan jamannya sendiri.

***

Masuk ke dalam permenungan Pramudya Ananta Toer, baginya, keroncong telah kehilangan elan vital-nya. Hal tersebut adalah sebuah teguran keras, dan layak untuk direnungkan bersama. Apakah, generasi muda keroncong saat ini masih juga tiada mampu berekspresi dan kosong?
Penulis yakin semua sepakat, bahwa kita menolak menjadi kosong. Menatap Indonesia dengan gagah, melambaikan Sang Merah Putih dalam bahana irama keroncong. (hs)

Please follow and like us:

tjroeng

Tjroeng Admin

One thought on “Keroncong Nafas Nusantara

  • July 29, 2018 at 8:04 pm
    Permalink

    Keroncong memang salah satu jiwa nya Indonesia, musik kahas nya. Sangat berkarakter dan memiliki ciri khas.. Trims sudah sharing artikel ini 🙂

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Social media & sharing icons powered by UltimatelySocial
preload imagepreload image