ALAT MUSIK BAMBU INOVASI ARTISTIK BERBASIS KEKAYAAN NUSANTARA
Artistik. Itulah salah satu karakter bangsa Indonesia yang pernah dipetakan oleh budayawan Mochtar Lubis di tahun 1977. Tentu ini tak lepas dari kekayaan alam dan keragaman budaya yang dimiliki bangsa ini jauh sebelum Indonesia lahir. Banyak inovasi artistik Nusantara yang dilakukan dengan menggunakan bahan yang diperoleh dari alam termasuk di dalamnya inovasi dalam bidang musik.
Dalam perkembangan musik di Indonesia, terdapat tiga aspek yang berpengaruh yaitu penciptaan (komposisi) musik, teknik main, dan pembuatan alat musik yang memproduksi bunyi. Penciptaan musik mengacu pada kepiawaian komponis dalam menyusun dan mengaransemen musik atau lagu. Teknik main adalah kemampuan seseorang dalam memainkan alat musik dan/atau menyanyikan lagu. Adapun pembuatan alat musik mengacu pada kepiawaian dalam mengkonstruksi sebuah alat musik untuk tahan lama (konstruksinya kuat), menghasilkan bunyi yang ideal, dan nyaman dipakai oleh pemainnya.
Dua aspek pertama di atas banyak dibicarakan, namun aspek yang ketiga cenderung diabaikan dan tidak mendapat perhatian dalam perkembangan budaya musik. Pembuatan alat musik umumnya hanya dianggap kerajinan (craftmanship) belaka. Padahal pembuatan alat musik sangatlah penting karena alat musiklah yang menghasilkan bunyi-bunyi yang sangat khas. Jika kita lihat sejarah pembuatan alat musik di negara-negara maju, teknik dan analisis akustika dari alat musik dilakukan secara intensif.
Penciptaan/pembuatan suatu instrumen musik pada dasarnya adalah kebutuhan untuk mendapatkan dan mengeksplorasi bunyi dengan mengandalkan ketersediaan bahan dan media di alam. Usaha ini membutuhkan kecerdasan manusia untuk mengolah dan merakit bahan-bahan tersebut dengan teknologi yang mumpuni disertai sentuhan artistik yang kreatif. Hal ini lah yang diupayakan oleh Lembaga Pendidikan Seni Nusantara (LPSN). Sebagai lembaga yang intens mengangkat realitas seni budaya Nusantara ke dalam dunia pendidikan seni Indonesia, melalui program Metodologi Pendidikan Seni Nusantara di sekolah-sekolah umum, sejak tahun 2003 LPSN melatih para guru seni budaya untuk membuat dan mengembangkan alat musik dawai dengan bahan-bahan sederhana. Para guru tersebut dilatih untuk memahami dan mempraktikkan konsep akustika seperti resonator, frekuensi, hukum pitagoras, dan lainnya. Salah satu bahan alam yang dapat digunakan untuk pembuatan instrumen musik baik sebagai sumber bunyi maupun resonator (penguat getar dan bunyi) adalah bambu yang melimpah di Indonesia.
Tumbuh suburnya bambu di negeri ini dengan pelbagai varietasnya tak otomatis membuat bambu menjadi bahan idaman untuk alat musik. Eksistensi logam dan kayu tampak masih mendominasi. Namun demikian, terdapat beberapa jenis alat musik Nusantara yang berbahan bambu misalnya angklung, calung, celempung, dan suling di Jawa Barat dan Banten. Ada sasando di Nusa Tenggara Timur, dan keteng-keteng di Karo, Sumatera Utara. Penggunaan bambu pada alat-alat musik di atas umumnya sebatas pada jenis idiofon (sumber getarnya dari badan alat musik itu sendiri) dan aerofon (sumber getarnya dari udara yang terdapat dalam alat musiknya, misalnya suling). Tak banyak dijumpai khususnya dalam alat musik jenis kordofon (alat musik yang sumber getarnya dawai/senar/kawat), baik yang berjenis lut (misalnya gitar, gambus, ukulele) maupun siter (misalnya kacapi, siter Jawa).
LPSN melihat bahwa potensi bambu selama ini belum banyak diteliti dan dieksplorasi, utamanya terkait dengan karakteristik akustik bambu. Hal tersebut menjadikan bambu tak banyak dilirik untuk bahan pembuatan instrumen musik. Pemanfaatan bambu juga didorong oleh kesadaran untuk lebih peduli lingkungan mengingat ketersediaan bambu yang melimpah dan semakin menipisnya sumber daya kayu. Oleh karena itu, memasuki tahun 2009 LPSN membuat terobosan penting dengan mendirikan Bengkel Alat Musik Bambu sebagai tempat penelitian dan pengembangan instrumen musik dengan bahan bambu. Di bengkel tersebut metode dan teknik menggarap bambu diteliti dan dieksplorasi sesuai dengan perkembangan teknologi termasuk dari aspek pertukangan serta dari segi desain agar produk-produk yang dihasilkan mempunyai keunikan dan pesonanya sendiri.
Fokus Penelitian: Ensambel Keroncong Bambu
LPSN mempunyai obsesi untuk membuat ensambel musik keroncong standar yang terdiri atas cuk, cak, gitar, selo, dan biola. Alat-alat musik di atas, selain gitar, belum pernah dibuat di Bengkel Alat Musik Bambu LPSN karena alat-alat tersebut mempunyai konstruksi dan sistem akustika yang sangat berbeda, sehingga untuk mewujudkannya membutuhkan studi tersendiri.
Mengapa yang dipilih ensambel keroncong? Ada dua pertimbangan yang diajukan. Pertama, karena musik keroncong adalah musik populer di Indonesia. Keberadaannya sudah ada semenjak beberapa abad yang lampau dan masih eksis hingga sekarang. Musik ini bahkan bertransformasi menjadi pelbagai macam genre gabungan misalnya congpop (keroncong pop, mengeroncongkan lagu-lagu pop Indonesia dan Barat), congdut (keroncong dangdut), congrock (keroncong rock), dan keroncong hip-hop. Musik keroncong juga masih didukung pelbagai grup penggiat dan penggemar yang tersebar di pelbagai kota di Indonesia seperti di Jakarta, Bandung, Yogyakarta, dan Solo. Kedua, sebagian besar instrumen genre musik ini seperti cak, cuk, gitar, biola dan selo petik, adalah alat musik kordofon yang berbahan kayu yang cocok (compatible) kalau diganti bambu. Pembuatan ensambel musik keroncong dari bambu ini tidak sekedar asal nyleneh ataupun ingin kontroversial, melainkan program inovatif yang ingin memanfaatkan dan mengeksplorasi potensi dan kehebatan bambu.
Penelitian alat musik bambu terdiri atas tiga kegiatan besar. Yang pertama adalah mengembangkan teknik pertukangan dalam mengolah dan menggarap bambu yang pemanfaatannya tidak hanya digunakan untuk membuat alat musik, namun untuk kegiatan kerajinan lainnya. Tahap ini berkaitan erat dengan dunia pertukangan (craftmanship) khususnya perkayuan dan perbambuan. Metode yang digunakan adalah gabungan antara teknologi (dan peralatan) lama dengan yang baru. Pelbagai peralatan lama seperti golok, pisau raut, pahat, dan serut tetap digunakan. Demikian pula dengan peralatan-peralatan masa kini seperti gergaji, mesin pemotong, bor listrik, dan amplas listrik. Untuk mengatasi pelbagai kesulitan dalam mengolah bambu, diciptakan juga perkakas alternatif seperti penjepit dan pelengkung yang terbuat dari bambu. Selain bambu bahan pelengkap lain yang diperlukan dalam pembuatan alat musik bambu adalah lem. Plywood, dan bahan lain seperti senar, drayer, fret, rosette, list, mika, nut, dan lain-lain. Kegiatan yang kedua adalah penyelenggaraan ensambel musik keroncong bambu yang profesional sehingga dapat diapresiasi publik dan yang ketiga adalah menampilkan ensambel musik keroncong bambu sebagai promosi bahwa bahan bambu yang melimpah dan ramah lingkungan bisa mencapai kualitas alat musik profesional sebagai pengganti kayu.
Menginjak tahun 2015, penelitian alat musik bambu LPSN menghasilkan tiga hal. Pertama, terwujudnya ensambel musik keroncong bambu berupa cuk, cak, gitar, biola (masing-masing dua buah), dan celo (sebuah). Alat-alat musik ini dibuat untuk tak sekedar jadi, namun telah mendekati tahap profesional. Para musisi ulung seperti Slamet Gundono (alm), Toto Tewel, Gondrong Gunarto, dan Mamat Rahmat telah menguji dan memainkan alat-alat musik bambu ini di pelbagai pergelaran. Mereka mengakui kekhasan dan kualitas bunyi instrumen musik bambu LPSN. Pengujian yang kedua dilakukan dalam sebuah konser di kota Bandung yang diselenggarakan pada bulan Mei 2015 dengan menampilkan Jempol Jenthik Orkes Keroncong (JJOK). Konser ini pun mendapat sambutan yang cukup meriah dari audiensi, dan para musisi yang memainkan alat musik bambu menyatakan bahwa dari sisi akustik, alat-alat musik ini mampu menghasilkan bunyi yang cukup ideal dan khas, tak kalah dengan alat musik serupa berbahan kayu.
Banyak hal dapat ditarik dari penelitian LPSN yang kiranya dapat menginspirasi kegiatan kreatif inovatif dalam bidang seni musik maupun bidang-bidang lain. Dengan adanya inovasi alat musik bambu ini, diharapkan muncul kesadaran dan kepedulian publik untuk menggunakan bambu sebagai alternatif pengganti kayu (yang makin menipis) untuk kegiatan membuat instrumen musik ataupun kegiatan kerajinan lainnya. Yang kedua, metode “baru†pembuatan alat musik bambu ini ini dapat menjadi referensi bagi para pengrajin yang ingin membuat alat musik. Perkembangan pemanfaatan bambu secara artistik ini tentunya dapat didorong apabila para musisi memiliki minat yang cukup kuat untuk menggunakan alat musik bambu. Bagi komunitas keroncong, penelitian ini merupakan satu referensi ilmiah yang tidak saja memperkaya khazanah musik keroncong, namun juga memberi nilai tambah bagi para pelaku di industri musik keroncong yang tidak terbatas pada musisi dan penyanyi saja, namun juga pengrajin alat musik, dan pihak-pihak lain yang berkepentingan dengan perkembangan industri ini (Endo Suanda).
dengan adanya alat music gitar bernuansa kayu semoga membuat para pengrajin dan menyedia kayu lebih sejahtera. meningkatkan penghasilan dari mereka.
untuk alat music lainnya dapat dibuat dari bahan kayu juga?