Tionghoa Di Keroncong Jakarta

Dari luar kafe Sang Akar terlihat nuansa khas perayaan Imlek seperti lampion dan beberapa dekor dengan ciri khas warna merah terasa memberi atmosfir hangat. Aksi mojok, diskusi dan berkeroncong jadi agenda seru pada Sabtu malam yang lalu.

Bicara Tionghoa tempoe doeloe, menurut Harun Roesli pimp. OK. Irama Jakarta, musik keroncong adalah musik mahal dimasa itu. “Orang China itu kelas no.2 di zaman Belanda menjajah, jadi yang bisa ikut pada pesta-pesta selain orang Belanda ya juga orang-orang China, sementara orang Pribumi hanya terbatas pada kalangan pejabat-pejabat tinggi saja.” Pernah diisi oleh musisi keroncong keturunan, orkes yang sebelumnya tampil tanpa nama dengan nama-nama seperti Tan Eng Lim (pemain biola), Ko Sun (pemain cello), Uu (Pemain ukulele) dan beberapa nama lainnya kerap kali mengisi acara sampai pada akhirnya menjadi nama Orkes Keroncong Irama Jakarta di tahun 1996 dengan formasi pemain inti yang sampai sekarang yakni Permana (pemain biola), Kelik Sobiran (pemain flute), Tan Kim Sian (pemain cello), Nicolas Ola/Eko (pemain bas), Rusmadi (pemain ukulele), Harun Rusli (pemain tenor), Memet (pemain melody gitar), Agustina dan Yuni (vokalis). Ada cerita unik yang punya kesan misterius romantis seperti yang dituturkan mbak Agustin salah satu vokalis Irama Jakarta, “Kami pernah loh mengiringi upacara pemakaman warga keturunan dengan bermain musik keroncong dari mulai prosesi di Vihara sampai ke tempat peristirahatan terakhirnya, wasiat almarhum memang ingin di mainkan musik keroncong pada hari kematiannya, ” dibenarkan oleh Harun Rusli, “malah ada dokumentasi dari prosesi tersebut namun belum sempat di pindahkan ke format CD.”

Sebagai narasumber Andre Michiels, Pimp. OK. Toegoe, menyampaikan sekelumit kisah sejarah Orkes Keroncong Toegoe yang terkenal sejak dulu. Andre yang cukup konsisten dengan perkembangan musik keroncong dibuktikan dengan selalu mengupayakan hadir di setiap event kecil maupun besar , sebagai narasumber maupun hadir sebagai peserta pendukung acara yang digagas sesama rekan-rekan musisi keroncong tanah air. Harapannya untuk musik keroncong dapat berkembang dengan warna baru dan menjadi musik paling diminati didalam dan diluar negeri. Narasumber lainnya Yayan W, dari ISSI (Institut Sejarah Sosial Indonesia) yang aktif membuat karya sosial budaya masyarakat melalui dokumenter. “Tahun lalu saya membuat beberapa profile video sanggar seni dan budaya Betawi. Awal berdiri sanggar-sanggar ini adalah perguruan silat dengan berbagai aliran yang ada di Betawi. Tapi pada perkembangannya mereka ikut memajukan seni budaya Betawi. Selain silat mereka juga mengembangkan tarian Betawi, gambang kromong, keroncong dan komunitas ondel-ondel. Diantara sanggar-sanggar tadi ada sanggar Kr. Irama Jakarta, pimpinan Harun Rusli. Harun Rusli dan kawan-kawan Irama Jakarta membuat workshop pelatihan di komunitas ini. Salah satu kelompok yang berhasil terbentuk adalah keroncong anak muda dari Sanggar Deprok, Cilandak. Sudah berdiri satu tahun ini. Sekarang Harun Rusli dkk juga membuat workshop dan pelatihan yg sama di sanggar Silibet Pengadegan. Keterbatasan alat adalah tantangannya. Kr Irama Jakarta hanya punya satu unit peralatan keroncong. Alat itu dipakai untuk pelatihan dan pentas. Diantara jawara silat Betawi, hanya Harun Rusli lah Jawara keroncong. Tapi yang saya salut semangatnya membangun keberagaman dan memajukan keroncong luar biasa. Sementara dukungan untuk ruang mereka bisa pentas dan alat sangat minim. Semangat Kong Harun itu yg mendorong saya ut membuat dokumenter.” Meskipun juga pembuatan dokumenter ini ditemui Yayan banyak kendala terutama pada pengumpulan dokumentasi terkait, namun mengaku terbantu dengan banyaknya informasi melalui media, yang salah satunya juga di dapatkan dari artikel Tjroeng.

Malam kian melarut, pertunjukan semakin ramai ditingkahi musik riang keroncong, ada Tionghoa, ada pribumi, ada kamu, ada aku. Keberagaman itu cantik dan keberagaman dalam seni musik keroncong adalah harmoni yang saling melengkapi yang untuk itu keindahannya harus tetap menggaung. Selamat hari raya Imlek 2019. (Tjroeng)

Please follow and like us:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Social media & sharing icons powered by UltimatelySocial